Review ASUS Zenfone 3 ZE520KL: Jawaban dari Sebuah Keraguan

October 18, 2016

by — Posted in Review

Awal tahun lalu adalah saat dimana keputusan ASUS membuat ponsel yang setingkat di atas pendahulunya mendapat banyak keraguan. Zenfone 3 ZE520KL, salah satu produknya kali ini akan jadi bahan pembuktian.

Pendahuluan

ASUS terbilang belum lama terjun ke dunia ponsel pintar setelah terakhir duetnya dengan Garmin jauh sebelum era ponsel Android merajalela, prestasinya terkesan biasa saja dan cenderung berada di bawah bayang-bayang merk lain seperti Blackberry dan Nokia. Hingga pada akhirnya di tahun 2010 mereka memutuskan untuk berhenti bekerja sama berimbas dari kurangnya potensi perusahaan joint-venture tersebut.

Memasuki tahun 2014, tepatnya di bulan Januari pada ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas, AS. ASUS merangsek lagi ke permukaan dengan jagoan barunya, Zenfone. Pada masa itu juga, Zenfone generasi pertama diluncurkan dalam tiga varian: Zenfone 4, Zenfone 5 dan Zenfone 6. Jajaran ponsel tersebut langsung dielu-elukan oleh netizen sebagai salah satu ponsel potensial untuk merusak pasar merk ponsel mainstream seperti Samsung, Sony, dan LG. Dengan rasio harga-spesifikasi yang menggiurkan, tak sedikit penikmat gawai yang kepincut untuk meminangnya. Melihat adanya kesempatan untuk mendapatkan secuil pangsa pasar ponsel dunia, ASUS kembali meluncurkan generasi kedua Zenfone di tahun berikutnya, bernama seri ASUS Zenfone 2 yang terdiri dari beberapa tipe. Tak butuh lama untuk ASUS agar dapat sukses di ladang yang subur ini. Dan benar saja, pada Mei 2016 ASUS mengumumkan bahwa mereka telah menjual setidaknya 30 juta unit Zenfone di seluruh dunia, sebuah capaian yang luar biasa untuk merk yang baru aktif lagi dalam beberapa tahun terakhir saja.

credit: Android Headlines
credit: Android Headlines

Kini, 2016 adalah tahun ketiga ASUS untuk kembali membuktikan eksistensi lini Zenfone-nya, dinamai Zenfone 3, ASUS membuat publik kaget dengan banderol harga yang dipasangnya. Memang, keputusan ini tergolong mengejutkan, mengingat ASUS biasanya menjual ponselnya dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat luas. Apalagi jika kita melihat persaingan ponsel yang sedang manis-manisnya adalah di segmen yang menyuguhkan spesifikasi mumpuni dengan harga murah. Tak jarang pula keputusan ini menimbulkan keraguan apakah ASUS mampu untuk bersaing di kelas yang lebih tinggi. Lalu berhasilkah ASUS dengan mengambil langkah beresiko ini? Untuk mengetahui jawabannya, inilah ulasan Saya untuk ASUS Zenfone 3.

Spesifikasi kunci ASUS Zenfone 3 ZE520KL

Kamera: Belakang: 16 MP Exmor RS IMX298, f/2.0, OIS, Laser autofocus, PDAF, Dual LED flash / Depan: 8 MP
Layar: 5,2 inci Super IPS+ FHD (1080p), Corning Gorilla Glass 3
Prosesor & Memori: Snapdragon 625 2.0 GHz, Adreno 506 / RAM 3GB, internal: 32GB, ekspansi via Micro SD (slot hybrid)
Sistem Operasi: Android 6.0.1 Marshmallow dengan ZenUI 3.0
Baterai: 2600 mAh
Harga (saat diuji): 3,75 juta rupiah

Desain & Hardware

Ini merupakan segi krusial bagi ASUS untuk membuktikan bahwa ponselnya pantas berada di tingkat yang lebih tinggi. Tak main-main, Zenfone 3 punya desain yang menawan. Jika sebelumnya pada ASUS Zenfone 2 kita disuguhi bodi dengan material dominan plastik, lain cerita untuk Zenfone 3. Ponsel ini kini dibalut oleh kombinasi kaca dan bingkai alumunium yang membuatnya begitu mewah. Pada bagian depan Anda akan melihat hamparan panel kaca 2.5D dengan proteksi Gorilla Glass 3, pun dengan sisi belakang ponsel yang dihuni oleh material yang sama. Di sisi-sisinya terdapat bingkai alumunium untuk menambah kesan kokoh meskipun ponsel ini hampir sebagian besar permukaannya dilapisi kaca.

Ukurannya kompak, beratnya hanya 144 gram, sedangkan ketebalannya cuma 7,7 mm. Tombol power dan pengaturan volume terletak pada bagian kanan ponsel, tombol-tombol mekanikal ini tergolong presisi dan tidak ringkih ketika sekedar disentuh atau ditekan, letaknya juga memudahkan Anda untuk menjangkaunya walau hanya dioperasikan dengan satu tangan. Sementara di bagian kiri ponsel Anda akan menemukan slot dua nano-SIM atau kombinasi satu nano-SIM dengan MicroSD model tusuk seperti pada kebanyakan ponsel berkonstruksi unibody. Di bagian belakang akan terlihat susunan lensa kamera yang diapit oleh dual LED flash dan sensor laser untuk membantu autofokus, di bawahnya terletak sensor sidik jari berbentuk persegi panjang dan Anda akan menemukan logo ASUS di pada sisi paling bawah belakang bodi ponsel. Jack audio dan noise cancellation mic terletak di sisi atas ponsel, terakhir penempatan lubang loudspeaker, mikrofon dan sambungan USB Type-C bercokol di bagian bawah ponsel.

Meskipun banyak yang Saya kagumi tentang rancang bangun ponsel ini, nyatanya ada catatan yang cukup bisa dijadikan pertimbangan. Contohnya adalah ketika Anda memutuskan untuk membeli pelindung layar berjenis tempered glass, Anda akan merasakan pengalaman yang cukup menyulitkan, setidaknya sampai saat tulisan ini diterbitkan. Saya tidak dapat menemukan produk yang cocok yang bisa melindungi bagian panel depan secara optimal mengingat teknologi 2,5D yang diusungnya. Kemudian lensa kamera pada bagian belakang ponsel sedikit menonjol keluar, ini bisa mengakibatkan tergoresnya bagian yang dimaksud apabila diletakkan pada permukaan yang kasar secara periodik apalagi sampai secara tak sengaja atau sengaja terseret-seret. Namun untuk masalah ini Saya sudah menemukan solusi, cukup beli case pelindung dan masalah selesai. Terakhir adalah tidak adanya lampu di tombol-tombol navigasi yang terletak di bagian bawah layar, untuk yang sudah terbiasa mungkin tak masalah, sebaliknya Anda harus beradaptasi dulu dengan susunan tombol “Back – Home – Recent” ini agar tak salah raba, apalagi saat kondisi gelap. Di lain sisi, Saya akui Zenfone 3 memiliki desain yang ergonomis, mewah juga menawan, dan jika hanya menilik dari sektor ini, ASUS mampu membuktikan kualitasnya.

Layar

Zenfone 3 dibekali layar jenis Super IPS+ berdimensi 5,2 inci dengan resolusi Full HD 1080p. Menurut Saya ukurannya pas karena masih nyaman digunakan untuk pengoperasian satu tangan namun tetap asyik kala ingin menikmati konten multimedia. Untuk kualitas output dari layarnya sendiri mengesankan, resolusinya rapat, saturasi warnanya tinggi, tampilan layar masih jelas jika dilihat dari beberapa viewing angle yang berbeda. Kemudian kontrasnya seimbang, tidak terlalu condong ke palet warna tertentu. Jika Anda kurang puas dengan pengaturan default, Anda bisa mengutak-atiknya melalui aplikasi bawaan bernama Splendid, Anda bisa mengubah pengaturan dengan menggeser color temperature atau memilih preset yang tersedia.

dsc_0399

Untuk pengoperasian di luar ruangan layarnya dapat menampilkan konten dengan baik, dengan catatan Anda harus sudah mengaturnya hingga kecerahan maksimal secara manual, karena jika Anda hanya mengandalkan auto-brightness sensornya kurang dapat menerjemahkan kondisi pencahayaan dengan baik. Kasus ini berbeda jika Anda menggunakan ponsel di malam hari dengan kondisi pencahayaan ruangan yang kurang, layar malah sanggup secara otomatis berubah menjadi sangat gelap untuk mendukung aktivitas di malam hari, apalagi telah didukung dengan mode bluelight filter bawaan ASUS yang mengubah tampilan menjadi agak kekuningan agar mengurangi kemungkinan mata lelah saat membaca di kondisi cahaya redup, pengaturan ini dapat Anda temukan di aplikasi Splendid atau melalui toggle di quick setting.

Performa & Software

ASUS memilih Snapdragon 625 besutan Qualcomm sebagai otak dari Zenfone 3, daripada yang sebelumnya bocor di situs-situs benchmark yaitu Snapdragon 650. Keputusan ini terbilang tepat, mengingat ukuran baterai Zenfone 3 yang tak jarang menjadi bahan olokan. Snapdragon 625 setidaknya membantu menambah nafas Zenfone 3 dalam sekali pengisian daya untuk hidup lebih lama, karena sudah menggunakan fabrikasi 14 nm yang yang lebih efisien ketimbang Snapdragon 650 yang masih berbasis di 28 nm. Dari segi performa, perbedaannya tak begitu kentara saat sebelumnya Saya mencoba Redmi Note 3 Snapdragon. Karena ketika berpindah ke Zenfone 3 nyatanya ponsel ini juga punya kemampuan yang baik. Beberapa tugas mampu dilakukan dengan mulus tanpa hambatan, berpindah dari aplikasi satu ke aplikasi lainnya juga bukan jadi soal. Secara spesifik, hal ini didukung oleh ukuran RAM Zenfone 3 yang sebesar 3 GB. Dalam kondisi normal alias tak ada aplikasi yang berjalan, RAM tersisa sekitar 1,1 GB, cukup boros memang mengingat Zenfone 3 menggunakan antarmuka khas ASUS yaitu Zen UI versi 3.0 yang menurut Saya agak “berlebihan”. Tapi jujur saja, pada saat pengujian Saya tak menemukan indikasi ponsel mengalami penurunan performa ketika membuka banyak aplikasi sekaligus apalagi sampai terjadi redrawing ikon aplikasi di homescreen.

Bagaimana dengan benchmark? Nah ini, dimana Zenfone 3 bukan tampil sebagai jagoan, angka-angka yang ditampilkan cenderung standar. Pengujian menggunakan AnTuTu hanya membubuhkan angka 60 ribuan. Memang jika ditilik dari tujuan Qualcomm mengembangkan Snapdragon 625, prosesor ini tidak diperuntukkan untuk heavy user yang menginginkan performa tanpa celah. Prosesor ini diutamakan sebagai prosesor irit daya, dengan penggunaan delapan inti Cortex A53 yang notabene lebih ke arah efisiensi. Tapi, bukan berarti performa olah grafis 2D/3D bisa dikatakan jelek. Ketika digunakan untuk bermain game Asphalt: Nitro, game bergenre racing dengan kualitas grafis cukup kaya, ponsel ber-GPU Adreno 506 ini dapat mengeksekusinya dengan lancar tanpa ada framedrop kala gameplay berjalan.

screenshot_20161014-005337

Menuju ke sektor software, ASUS kini menyuntikkan antarmuka terbaru mereka yang diberi nama ZenUI 3.0, antarmuka ini adalah pembaharuan dari ZenUI 2.0 yang sebelumnya tersemat di deretan ASUS Zenfone 2. Dari segi tampilan, sepengetahuan Saya tak banyak yang berubah dari pendahulunya, masih khas ASUS. Misalnya launcher yang terbagi dua antara homescreen dan app drawer yang berisi tab aplikasi maupun widget. Pada tab aplikasi Anda bisa merapikan tampilannya dengan mengelompokkan aplikasi-aplikasi sejenis ke dalam satu folder. Untuk tab widget, di sisi ini Saya rasa kurang praktis dan sudah ditinggalkan sejak sistem operasi Android versi Lollipop diluncurkan, hal ini disebabkan karena jika kita menekan kemudian menahan jari kita pada kondisi tampilan di homescreen di posisi yang kosong, akan memunculkan opsi serupa untuk menampilkan widget, sedikit redundant bagi Saya, walaupun begitu ini hanya masalah selera saja.

Lanjut lebih dalam, banyak fitur yang disediakan oleh ZenUI 3.0, misal dalam hal kustomisasi tampilan. Di sini Anda bisa mengubah ukuran & jenis font, sekedar mengganti wallpaper homescreen dan locksrceen, menggonta-ganti icon pack, serta mengubah tema. Anda akan menemukan banyak pilihan tema baik yang gratis maupun berbayar. Mengunci aplikasi tertentu juga bisa dilakukan menggunakan opsi yang tersedia di pengaturan launcher. Anda pun dapat mengatur tampilan quick setting sesuai keinginan dengan mengaktiftan atau menonaktifkan toggle-toggle yang sekiranya Anda perlu atau tidak perlukan, sangat praktis.

Kata banyak tak berhenti untuk fitur saja, tapi bloatware yang telah di pra-install di ponsel ini juga tak kalah banyak. Sebagian bloatware bawaan ini berasal dari ASUS sendiri, ada juga yang berasal dari pihak ketiga. Cukup mengesalkan, apalagi saat ada beberapa aplikasi yang hanya bisa dinonaktifkan tanpa ada pilihan untuk di-uninstall.

Dari segi keamanan, selain fitur-fitur standar seperti menggambar pola, PIN, atau penggunaan kata sandi, sekarang ASUS telah menyediakan adanya sensor sidik jari yang terletak di bagian belakang ponsel. Cara kerjanya sederhana, Anda hanya perlu mengusapkan jari Anda yang telah terdaftar di sistem dan hanya dalam waktu sekejap ponsel akan mengenali Anda. Ketika pengoperasian sensor jari ini mampu memberikan akurasi rata-rata 8 dari 10 percobaan. Beberapa percobaan yang gagal adalah ketika jari Anda basah atau posisinya tak tepat mengenai permukaan sensor.

Kamera

Zenfone 3 mengusung sensor kamera yang cukup populer di kalangan ponsel berjuluk flagship killer, misal seperti OnePlus 3, Xiaomi Mi 5, dan Nubia Z11. Sensor Sony Exmor IMX298 dipilih ASUS sebagai sarana mengabadikan momen. Sensor ini memiliki resolusi 16 megapiksel serta bukaan f/2.0. Performanya baik, tersedia begitu banyak fitur dari ASUS, antarmuka dari aplikasi kamera juga mudah dimengerti. Hasil kameranya menurut Saya bagus untuk sekelasnya, tentu saja tidak bisa berharap untuk setara ponsel flagship. Sebuah keanehan Saya temukan ketika sedang menjajal kamera dari Zenfone 3 ini, meskipun ASUS bilang mereka telah menyematkan teknologi fitur autofokus terbaru racikannya yang bernama Tri-Tech Autofocus System yang menggabungkan teknologi autofokus laser dan Phase Detection Auto Focus (PDAF), kenyataannya Saya beberapa kali kesulitan mendapatkan titik fokus yang sempurna, fokus kamera terkadang bingung dan sesekali bahkan mengaburkan fokusnya. Lebih lanjut mengenai kualitas kameranya Anda bisa simpulkan dengan melihat hasil jepretan di bawah ini. (Catatan: klik pada gambar untuk memperbesar)

Audio

Setelah beberapa saat menggunakan Zenfone 3 untuk sekedar sebagai pemutar musik, Saya cukup dimanjakan oleh kualitas suaranya. Hal ini  didapatkan dengan perpaduan penggunaan earphone standar dan aplikasi streaming musik Spotify, alunan nada terdengar merdu, detailnya pas, bass, meskipun  tidak begitu dominan meski Saya rasa masih cukup. Tanpa mengesampingkan spesifikasi yang dipamerkan ASUS seperti dukungan high-res audio 24-bit/192 Khz, Saya pikir kualitasnya sudah bisa diacungi jempol. Namun Saya menemukan keanehan dalam kegiatan bermusik menggunakan ponsel ini, yakni dukungan ekualiser bawaan ASUS yaitu Audiowizard, dimana Saya merasa pengaturan default untuk “Movie”-lah yang paling tepat untuk mendengungkan nada, karena ketika preset Saya ubah ke “Music”, keluarannya menjadi kurang bertenaga serta alunan suara antar instrumen terasa kurang.

Untuk keluaran suara dari loudspeaker, Saya rasa ponsel ini masih bisa diandalkan, volumenya lantang dan tidak pecah saat diatur ke volume tertinggi sekalipun. Tapi jangan berharap detail yang luar biasa dari speaker ponsel ini, karena ini merupakan hal yang lumrah bagi perangkat ponsel sekelas. Speaker Zenfone 3 sendiri terletak di bawah bodi ponsel, ada pro-kontra terhadap penempatan speaker ini. Di satu sisi penempatan ini membuat keluaran suara jika ponsel diletakkan di meja dan semacamnya menjadi tidak terhalang, di sisi lain akan berakibat pada saat Anda menggunakannya dalam mode landscape, misal untuk bermain game, tak jarang lubang speaker akan tertutup jari pengguna.

Konektivitas

Selayaknya konektivitas yang beragam adalah sebuah kewajiban bagi ponsel pintar segmen menengah keatas jaman sekarang. Sekurang-kurang paling tidak koneksi 4G LTE, Wi-Fi dual band, Bluetooth v4.0, GPS handal sudah tersedia. Namun tak sekedar membaca pada kolom spesifikasi saja, ternyata Zenfone 3 memang sudah mengakomodir kebutuhan itu. Saat pengujian, sinyal jaringan operator yang Saya gunakan minim masalah sehingga mampu terjaga di posisi sinyal penuh, tapi ada sedikit gejala ketika Saya berpindah dari posisi outdoor menuju ke indoor maka akan terjadi penurunan kekuatan sinyal sebanyak satu bar, tapi setelahnya ponsel akan beradaptasi dan kekuatan sinyal kembali menunjukkan indikator full-bar. Untuk koneksi Wi-Fi juga sejatinya tak ada masalah, range-nya cukup jauh hingga mencapai sekitar 15 meter dari posisi router tanpa menunjukkan tanda-tanda penurunan kecepatan akses internet. Saya juga sesekali mencoba melakukan perpindahan file menggunakan bluetooth, semuanya berjalan normal dan tidak ada masalah. Zenfone 3 mendukung slot dwi SIM dengan tipe nano, sayangnya penggunaan slot-nya berjenis hybrid, jadi pilihannya adalah antara menggunakan dua SIM sekaligus atau mengorbankan slot satunya untuk ekspansi memori dengan MicroSD. Untuk kali ini Saya lebih memilih untuk memasang kartu MicroSD. Secara keseluruhan untuk segi konektivitas ASUS Zenfone 3 mampu mengeksekusinya dengan cemerlang.

Baterai

Awalnya Saya meremehkan kapasitas baterai Zenfone 3 yang hanya sebesar 2600 mAh, mengingat kebanyakan ponsel sekarang dengan harga serupa minimal dibekali baterai dengan kapasitas 3000 mAh. Setelah Saya gunakan beberapa saat, ternyata asumsi Saya salah, dalam sekali charge Zenfone 3 mampu bertahan sekiranya satu hari dari siang sampai sore di kemudian hari, itu pun ternyata masih tersisa 15%. Hasil ini Saya dapat dengan rincian sebagai berikut: aplikasi media sosial berjalan di latar secara terus menerus, mengakses kamera total 5 menit, mendengarkan musik via aplikasi streaming musik online Spotify selama 40 menit, menonton Youtube selama 24 menit, bermain Asphalt: Nitro dengan total 20 menit, menonton video offline selama delapan menit, sisanya adalah mengoperasikan ponsel secara standar seperti membalas chat dari berbagai media sosial, membuka linimasa Twitter dan akhirnya membukukan total waktu screen on time sejumlah 5 jam 34 menit. Semuanya dalam kondisi kombinasi menggunakan jaringan operator dan Wi-Fi. Untuk baterai berkapasitas 2600 mAh, Saya sama sekali tidak akan mengeluh dengan hasil yang didapatkan.

Apabila Anda dalam posisi kepepet dan kesulitan mencari sumber daya Anda bisa mengaktifkan mode hemat daya yang sudah tersedia, ada beberapa mode dari sekedar menurunkan clock rate prosesor hingga mematikan jaringan layanan operator.

Kesimpulan

dsc_0446

ASUS Zenfone 3 ZE520KL telah membuktikan bahwa ASUS serius ingin naik kelas dan menjawab keraguan beberapa pihak perihal kemampuan mereka untuk mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Perbaikan dari segala sektor dilakukan tak sekedar untuk pantas-pantas saja. Terbukti selama pemakaian beberapa saat Saya pribadi sangat puas dengan apa yang disuguhkan ponsel ini. Layarnya cemerlang, performa yang bisa diandalkan, kualitas hasil kamera yang bagus, audio mumpuni serta konektivitas yang lengkap. Apalagi harganya yang kini sudah turun di angka tiga jutaan rupiah dari harga awalnya yang berada di angka empat juta rupiah. Satu kekurangan yang Saya temukan hanya masalah software saja yang menurut Saya kebanyakan kosmetik yang sepertinya kurang diperlukan. Secara keseluruhan, ponsel ini adalah paket komplit dan cocok bagi Anda yang mencari ponsel dengan kemampuan yang prima dari berbagai sisi.

DISCLAIMER: Ulasan ini ditulis sesuai pengalaman penggunaan penulis tanpa terafiliasi oleh pihak manapun.